History Maker - On Fire - Impacting Generation - Rocking Transformer - .....
Here we are......
Retreat kelima PD VEGE - THE NEXT LEVEL
Taman Eden I, Kaliurang, 24-26 Oktober 2014
Acara retreat yang nggak akan aku lupain seumur hidupku. Dari awal pembentukan panitia, pelaksanaan retreat, dan pasca retreat banyak banget proses dari Papa yang aku alami bersama team sekaligus keluarga PD VEGE. Banyak ha;-hal yang unpredictable yang kami alami bersama Tuhan kami yang sungguh di luar logika karena emang Dia nggak bisa dipahami dengan logika manusia.
Semua proses berawal dari penolakan yang kami alami di sepuluh tempat yang kami rencanakan sebagai tempat pelaksanaan retreat THE NEXT LEVEL. Awalnya kami bingung kami harus cari tempat di mana. Sampai di suatu titik, kami benar-benar hopeless, kami nggak tahu harus survei tempat di mana lagi karena semua tempat yang kami datangi benar-benar tidak bisa dipakai pada tanggal tersebut, dan akhirnya kami mendapatkan sebuah tempat di daerah Kaliurang yang bisa kalian tahu dari nama tempat yang aku tulis di atas. Kami nggak nyangka sama sekali kalau kami bisa dapatkan tempat retreat sekelas dengan hotel. Kami bener-bener nggak nyangka bisa mengadakan retreat di sana dengan harga yang cukup terjangkau bagi kocek pelajar. Sungguh hal di luar dugaan. Kami nggak pernah berekspektasi sebesar itu. Selama ini kami berekspektasi yang biasa-biasa aja, yang penting kami dapet tempat dan bisa mengadakan retreat tersebut. Lalu kami ditantang untuk berekspektasi besar oleh pembina dan alumni kami. Salah satu dari alumni kami ngomong kayak gini "Mungkin kalian ditolak disepuluh tempat yang udah kalian survei karena emang bukan di situ tempat kalian. Tuhan pengen kalian punya ekspektasi yang besar. Sangat besar. Nggak masalah karena Ia juga berekspektasi besar kepada kalian mengenai retreat ini makanya kalian nggak dapet-dapet tempat." Sejak saat itu kami manut sama Tuhan, kami mau berekspektasi besar sangat besar malah sampai-sampai itu menjadi hal mustahil bagi kami. Dan benar saja beberapa waktu kemudian kami dapet tempat di Hotel Taman Eden I. Sungguh di sini kami bener-bener takjub, kami speechless, nggak tahu harus ngapain selain bersyukur dan berterima kasih sama Papa kami yang luar biasa keren.
Mati satu tumbuh seribu, prinsip itu yang digunakan masalah. Satu masalah selesai dan muncul masalah-masalah lain yang siap nggak siap harus kami hadapi. Masalah selanjutnya adalah dana. Kekurangan dana yang kami perlukan untuk retreat ini sebesar Rp16.000.000,00. Membaca atau mendengarkan nominal tersebut sungguh hal yang nggak mungkin bagi kami karena secara kami masih seorang pelajar. Awalnya kami berpikir akankah kekurangan tersebut dapat kami cukupi? Lagi-lagi kami diajarkan untuk berserah sama Yesus Kristus. Kami diajarkan untuk setia pada hal-hal kecil yang dapat kami lakukan. Kami belajar setia pada hal-hal kecil yang dapat kami lakukan seperti berjualan yogurt, coklat, kue basah (brownies, dkk), risoles, jualan paket makanan -mulai dari pesan antar sampai door to door-, jualan pakaian bekas di daerah Kopeng ke atas, ngamen di Gua Maria Kereb Ambarawa setiap minggu kedua setiap bulan, ngumpulin botol-botol bekas yang kemudian bisa kami jual. Nggak hanya itu, kami bahkan dateng ke Warung Joglo Bu Rini setiap hari Kamis dan Sabtu untuk live acustic di sana. Selama menjalani itu kami juga merasakan bosan dan terlintas dalam benakku "Kapan ini selesai?". Tapi selama melakukan gali dana tersebut kami diberi kejutan yang nggak terduga. Pernah dalam satu kali ngamen kami mendapatkan berkat sebesar Rp800.000,00. Kami nggak nyangka sama sekali bisa dapet berkat Tuhan sebesar itu. Gali dana kami rasakan dengan tetesan air mata dan gelak tawa. Masalah gali dana nggak sampai di situ aja. Setelah kami itung-itungan dengab ketua, pembina, koordinator gali dana dan bendahara, pada H-7 retreat kami masih punya kekurangan dana sebesar Rp7.000.000,00. Jumlah yang nggak sedikit mengingat waktu kami yang semakin mendekati retreat THE NEXT LEVEL. Tapi lagi-lagi kami dibuat gumun sama Tuhan, akmi dibuat terkagum-kagum dengan semua hal yang Tuhan lakukan buat kami. Pada H-2 kami ngelakuin itung-itungan lagi buat memastikan dana kami mencukupi and you know what? Kami sudah surplus dalam itung-itungan kami di atas kertas. Untuk sementara kami bisa bernafas lega dan sungguh kami sangat senang dengan kabar itu.
Lalu pada H-1 retreat ada beberapa panitia dari seksi dekorasi dan dokumentasi, seksi acara, serta seksi perlengkapan dan transportasi berangkat untuk memperiapkan aula dan memasang sound system + alat-alat musik (gitar listrik, gitar akustik elektrik, drum, dan bass) untuk retreat kami. Segala persiapan sudah kami lakukan namun semua tidak berjalan semulus yang kami inginkan. Di situ kami kekurangan kendaraan untuk membawa mereka menuju Kaliurang dan mereka harus mencari kendaraan tambahan untuk membawa mereka dan mereka baru berangkat jam 20.00 WIB. Aku sebagai bagian dari seksi perlengkapan dan transportasi ngerasa frustasi, bingung, dan panik malam itu. Malam itu juga pukul 21.00 WIB aku bersama kakaku langsung menuju ke Semarang untuk mencairkan dana yang kami miliki dalam ATM kami. Suasana malam itu sungguh kacau. Di mana-mana penuh dengan kepanikan dan bersitegang. Dan lagi-lagi Ia yang menguatkanku untuk melewati saat-saat aku ada di ambang batas kemampuanku (Filipi 4:13). Malam itu aku dapat tidur nyenyak setelah dibujuk-bujuk kedua orang tuaku untuk beristirahat dan menyemangatiku dan memberitahu aku bahwa everything will be okay.
Begitu banyak masalah yang aku alami bersama-sama dengan panitia RETREAT THE NEXT LEVEL namun begitu banyak pula Bapa menyatakan kasih dan kekuatannya pada kami di saat-saat terlemah kami. Ia nyatakan kuasa-Nya dengan begitu jelas dihadapan mata kami. Langsung saja pada hari terakhir retreat. Hari terakhir retreat diisi dengan outbound setelah 2 hari kemarin kami mendapatkan bekal berupa materi dari 2 pembicara kami yang keren, yaitu Ko Jeffri dan Kak Erwin. Outbound kami berjalan dengan kacau -menurut kami- namun setiap pos-pos yang kami rencanakan bisa kami laksanakan dengan beberapa perubahan yang kami pun nggak menyangka bisa melaksanakannya. Pada akhir outbound ada beberapa peserta yang ngomong ke Philip, ketua retreat, kayak gini "Lip... thanks ya. Outboundnya ngena banget. Bener-bener aplikasi dari materi yang kemarin aku dapet dari 6 sesi kemarin." WOOOOOOOOWWWWWWW......... kami nggak nyangka sama sekali dari outbound yang kami anggap kacau tersebut ada orang yang terberkati dan hidupnya dipulihkan. Mmmmmeeeennnn..... kami sama sekali nggak nyangka. Mendengar hal itu mulut kami langsung ternganga lebar sampai-sampai nggak bisa mingkem.
Di akir acara pembina kami dipanggil ke lobby dan ternyata waktu kami sudah melewati batas. Seharusnya kami check out pada pukul 13.00 WIB namun sampai pukul 15.00 WIB acara kami belum selesai. Dengan segera kami meminta para peserta untuk segera mengemasi barang-barang mereka dan keluar dari kamar. Selama proses pengeluran barang dari kamar, pembina kami, Pak Agus Sunoko, dan Philip melakukan pembayaran hotel. Awalnya mereka berdua panik dan bingung harus bagaimana karena jika dinalar kami akan kena charge sebesar Rp90.000,00 untuk setiap anak. Padahal jumlah peserta, panitia, dan bapak/ibu guru pendamping adalah 175 orang. Secara dinalar pengeluaran kami untuk membayar hotel akan emmbengkak drastis, namun kalian tahu kenyataan yang kami terima?? Uang yang harus kami bayarkan ke pihak hotel sebesar Rp37.500.000,00 berubah menjadi Rp29.700.000,00. Perbedaan yang sungguh mencolok. Kami pun nggak menyangka kami hanya harus membayar sebesar itu. HANYA!
Dari masalah-masalah tersebut aku semakin yakin bahwa Tuhan itu ada dan Tuhan yang aku sembah nggak pernah meninggalkan aku. Ia selalu ada di setiap musim dikehidupanku dan Ia nyatakan kekuasaan-Nya dengan jelas di depan mataku sendiri. Aku melihat dan mengalami itu sendiri. Jujur aku nggak tahu harus ngetik apalagi tentang retreat kali ini karena jujur aku masih speechless dengan semua ini. Tuhanku sungguh luar biasa. My GOD is unpredictable. always awesome, and He is the best. Banyak pelajaran yang aku dapet dari proses-proses yang aku alami dari sebelum, saat, dan sesudah retreat ini.
Di bagian akhir ini aku mau bagi ayat yang panitia retreat pakai untuk jadi ayat retreat yaitu di Filipi 2:5-11. Kalau ingin next level kamu harus:
1. Welcome Home
Mengampuni orang-orang yang pernah nyakitin kami, bikin kamu luka, bikin kamu kepahitan sama dia. Kamu harus ngerasain kasih Bapa dalam keluargamu karena keluargamu sekarang ini adalah gambaran tentang Allah, Yesus, dan Roh Kudus. Gambaranmu tentang keluargamu harus dibenerin dulu dan kamu mengampuni orang tuamu dan saudara-saudaramu kalau mereka pernah bikin kamu sakit hati dan kepahitan. Ketika kamu udah kenal sama Kristus maka masa lalumu itu = SAMPAH.
2. Ready?
Setelah kamu dipulihkan kamu akan mengalami proses. Proses di sini adalah pembentukan diri agar serupa dengan Kristus karena emang kita diciptain itu serupa dan segambar dengan Kristus (Roma 8:29).
3. Limitless
Kita itu tidak terbatas. Nggak ada sesuatu yang bisa ngebatasin kita. Yang bisa membatasi segala potensi yang kita miliki itu ya diri kita sendiri.
4. Breakhthrough
Ada 3 tipe orang mengenai terobosan. Yang pertama: menunggu terobosan itu terjadi, kedua: menjemput terobosan itu, dan yang ketiga: heran mengapa terobosan itu terjadi. Terobosan bisa terjadi kalau kita merasa bosan dan frustasi akan suatu hal yang sedang kita hadapi dan kita nggak bisa ngapa-ngapain selain berserah dan percaya sama Yesus.
5. Higher Standard
Standar hidup sebagai seorang Kristen itu nggak biasa-biasa aja. Standar kita tinggi men. Kita nggak boleh serupa dunia ini kayak yang ditulis di Roma 12:2. Standar hidup kita adalah alkitab. Semua petunjuk tentang cara bermain di dunia ini semua sudah ada di situ.
6. Next Level
Untuk jadi next level kita harus lewati proses. Proses itu namanya genose (kalau nggak salah eja). Next level itu ngomong tentang pengosongan diri. Kayak yang
tertulis di Filipi 2:7. Dalam versi the message di situ ditulis kalau
pengosongan diri itu = NO REPUTATION. Jadi, kita itu harus kayak keset, yang walaupun diinjak-injak kita tetep ngomong welcome ke semua orang. Seberapa banyak dari kita ketika kita dihina kita tidak terima? Kita itu nggak penting. Kita itu berharga karena Allah mengasihi kita. Bukan karena kita berharga maka Ia mengasihi kita. NO!!! BUKAN!! Kita menjadi berharga karena Allah mengasihi dan memilih kita.
Sekarang semua ada di tangan kalian. Bukan masalah bisa atau nggak. Ini masalah mau atau nggak. Apa yang mau kalian ambil?